PENDAHULUAN
A.PENGERTIAN KONFLIK
Pengertian konflik yang paling sederhana
adalah saling memukul(configere),secara lebih luas konflik diartikan sebagai
suatu proses sosial antara dua orang atau lebih yang berusaha bersaing dengan cara menyingkirkan atau menghancurkan
pihak lawan.Sebagai proses sosial konflik dilatar belakangi oleh perbedaan
ciri-ciri yang dibawa oleh individu yang terlibat dalam suatu interaksi.
Konflik sosial dapat diartikan menjadii
dua hal,yaitu:
1.Perspektif/sudut
pandang yang menganggap konflik selalu ada dan mewarnai segenap aspek interaksi
manusia dan struktur sosial ;
2.Konflik
sosial merupakan pertikaian terbuka seperti perang,revolusi,pemogokan,dan
gerakan perlawanan.
Bentuk-bentuk konflik mmenurut Lewis
A.Coser:
1.Konflik
realistis adalah konflik yang berasal dari kekecewaan individu atau kelompok
terhadap sistem dan tuntunan yang terdapat dalam hubungan sosial,misalnya
adanya pemogokan buruh tmelawan majikanya ;
2.Konflik non
realstis adalah konflik yang bukan berasal dari tujuan-tujuan persaingan yang
antagonis melainkan dari kebutuhan pihak-pihak tertentu untuk meredakan
tegangan,misalnya upaya mencari kambing hitam yang sering terjadi dalam
masyarakat atau balas dendam menggunakan ilmu ghoib.
Faktor-faktor yang menyebabkan konflik:
1.Perbedaan
individu
2.Perbedaan
latar balakang kebudayaan
3.Perbedaan
kepentingan
4.Perubahan
nilai yang cepat
Menurut Ursula
Lehrn(1980)kemungkinan-kemungkinan yang dapat menimbulakan konflik antara
lain:konflik dengan orang tau sendiri,konflik dengan anak-ank sendiri,konflik
dengan sanak keluarga,konflik dengan orang lain,konflik antara suami dengan
isteri,konflik disekolah,konflik dalam pemilihan pekerjaan,konflik agama,dan
konflik pribadi.
1.Konflik
Indonesia VS Malaysia
Terdengar suatu yang biasa jika kita
melihat kata dari judul diatas, entah karena ulah si Indonesia atau si
Malaysia, namun sebagai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia, saya belum
pernah merasakan suatu pemicu perang dingin yang dibuat oleh Indonesia, semua
berasal dari Malaysia. Mulai dari perebutan ambalat, malaysia meng-klaim
kesenian reog ponorogo sebagai kesenian asli malaysia, malaysia memasukkan tari
pendet dalam iklan pariwisatanya, penganiayaan dan pembunuhan TKI, kasus manohara,
dan pencurian sumber daya alam baik itu pulau maupun lautan merupakan penyebab
konflik kedua negara ini. Penghadangan dinas kelautan yang baru kali ini
terjadipun telah membuat panas hubungan kedua negara, ditambah lagi pelemparan
tahi (kotoran manusia) ke gedung Kedutaan Besar Malaysia di Indonesia.
Merupakan topik yang panas di
forum-forum yakni perdebatan antara warga Indonesia dengan warga Malaysia,
mereka saling ejek mengejek menjunjung tinggi negaranya masing-masing. Beberapa
ejekan yang sangat menyayat hari adalah ditemukannya blog asal Malaysia yang
menghina secara dalam warga Indonesia. Blog ini saya temukan di blognya mas
Bunglon yang beralamatkan di :http://indonbodoh.blogspot.com
Saya harap seluruh blogger maupun warga
Indonesia khususnya untuk mengunjungi dan membaca seluruh tulisan yang ada
dalam blog tersebut. Saya pribadi sama sekali tidak terima dengan semua
kata-kata yang ada didalamnya. Dalam chatting dengan warga Malaysia, teman saya
pernah diejek bahwasanya “Indonesia adalah warga buruh dan akan menjadi buruh
untuk selama-lamanya” Para warga di
Kalimantan utara merasa bahwa mereka dianak tirikan dan tidak diperhatikan oleh
pemerintah Indonesia sehingga kebanyakan mereka menyekolahkan anaknya dan
berbelanja kebutuhan sehari-hari di negara tetangga. Mereka berjanji tidak akan
pernah ikut pemilu untuk selama-lamanya karena siapapun pemimpin yang mereka
pilih tidak pernah peduli akan kemakmuran rakyat di daerah tersebut. Siapa yang
salah kali ini? Saya tidak ingin memperpanas
suatu keadaan yang sudah panas karena saya bukanlah orang yang bijak. Saya
hanya ingin mengajak kedua belah pihak untuk berpikir. Kita ini manusia diciptakan lengkap dengan
akal dan pikiran, bisakah kita menghargai Negara lain, kita sama-sama hidup di
dunia ini dan kita bukanlah zat yang terkuat di dunia ini. Tidak semua masalah
dapat diselesaikan dengan perang dan perang, adu senjata, bunuh membunuh,
menyiksa satu sama lain ataupun salah satu pihak masih banyak cara yang mulia
yang dapat kita gunakan. Gunakanlah Otakmu!
Sesuatu yang patut dipertimbangkan bagi
kedua belah pihak adalah :1.Setiap perselisihan antar negara hendaknya
diupayakan dengan jalan negosiasi; 2.Bila negosiasi bilateral menjadi buntu,
maka perlu dilibatkan pihak ketiga, apakah itu PBB, negara perantara, dsb;
3.Perlunya kekuatan militer yang signifikan agar menjadi daya penggetar bagi
negara tetangga maupun negara manapun untuk tidak memulai konflik dengan negara
kita.“Hanya sebuah opini” 

Sumber gambar
: http://deka.web.id
2.Contoh
Konflik Antar Individu
Kali ini saya akan menulis blog tentang
konflik,dan contoh konflik yang angkat kali ini yaitu tentang konflik antar
individu. Dahulu..dilingkungan saya,saya mempunyai 2 orang teman sebut saja dia
si “A” dan si “J”.Si A tinggal di depan rumah saya dan si J tinggal di sekitar
50 meter dari rumah saya.Sebenernya kali ini saya tidak akan menceritakan
konflik antara kedua anak ini tetapi saya akan menceritakan konflik antara
kedua orang tuanya! Hahaha.Mengapa kedua jadi orang tuanya yang ribut?
Penasaran kan sama ceritanya? Berikut ini adalah ceritanya : Sudah sering kali
saya mendengar keributan di depan rumah saya,dan orangnya pasti dia-dia
lagi(orang tua si A dan J).Akan tetapi,saya tidak akan menceritakan konflik semuanya
dan saya akan mengambil salah satu saja. “Cerita ini saya ambil sekitar 5 tahun
yang lalu.Pada saat itu saya dan teman-teman saya akan membuat kostum futsal
,dan kebetulan sekali yang memegang uangnya itu si A.Dan hari demi hari berlalu
sampai 1 bulan lamanya baju itu tidak kunjung jadi .Saya pun bersama teman
teman saya yang lain mencoba bersabar dan tidak berpikiran yang macam terhadap
si A.Akan tetapi si J tiba-tiba mengeluarkan suatu pendapat yang sangat pedas
bahwa kata dia duit baju tersebut mungkin di pake untuk keperluan pribadi dan
tidak di setorkan ke tempat konveksi.Singkat cerita pendapat si J itu benar dan
terbukti bahwa duit baju tersebut tidak disetorkan ke tempat konveksi.Saya dan
teman-teman saya yang lain pun kesal dan segera meminta duit itu kembali,tetapi
duit itu pun tidak segera di pulangkan sampai berbulan-bulan.Nah,selang
beberapa hari kemudian pas saya habis pulang sekolah saya mendengar ada
keributan di depan rumah saya,dan saya pun penasaran dan langsung ke TKP! Dan
pas saya tanya ke tetangga saya yang lain bahwa keributan ini dipicu oleh
karena sang ibunda si J tidak terima kalo duit baju anaknya diselundupkan untuk
keperluan pribadi si A” Cara Penyelesaiannya : Akhirnya, masalah konflik kedua
orang tua si A dan si Jdapat diselesaikan oleh RT setempat dengan cara
menasehati kedua pihak tersebut dan memberikan jalan keluar yang terbaik.Dan
sekarang pun si A sudah tidak tinggal di lingkungan saya lagi. Sekian sampai
disini aja yah ceritanya,mau tau cerita-cerita yang lain? Tanya aja langsug
sama sayanya! hihihi

3.KONFLIK
AHMADIYAH DI INDONESIA
Peristiwa yang baru terjadi adalah
konflik antara umat Ahmadiyah sebagai salah satu bentuk aliran/ ajaran agama
baru dengan umat muslim Indonesia. Yang berakibat besar pada keamanan dan
kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Ahmadiyyah atau sering juga ditulis dengan
Ahmadiyah, merupakan salah satu gerakan Islam yang didirikan oleh Mirza Ghulam
Ahmad (1835-1908). Ajaran ini lahir pada tahun 1889 disebuah kota kecil yang
bernama Qadian di Negara bagian Punjab, India. Para pengikut Ahmadiyah yang disebut dengan
Ahamadi atau Muslim Ahmadi, terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama ialah
“Ahmadiyah Muslim Jamaat” (jamaat Qadian). Pengikut kelompok ini di Indonesia
membentuk organisasi bernama Jamaat Ahmadiyah Indonesia, yang berbadan hukum
sejak 1953 (SK Menteri Kehakiman RI No. JA 5/23/13 Tgl. 13-3-1953). Kelompok
kedua ialah “Ahmadiyah Anjuman Isha'at-e-Islam Lahore" (Ahmadiyah Lahore).
Pengikut kelompok ini di Indonesia membentuk organisasi bernama Gerakan
Ahmadiyah Indonesia yang berbadan hukum Nomor I x tanggal 30 April 1930. Jemaat
Muslim Ahmadiyah adalah satu organisasi keagamaan internasional yang telah
tersebar ke lebih dari 185 negara di dunia. Pergerakan Jemaat Ahmadiyah dalam
Islam adalah suatu organisasi keagamaan dengan ruang lingkup internasional yang
memiliki cabang di 174 negara tersebar di Afrika, Amerika Utara, Amerika
Selatan, Asia, Australia dan Eropa. Saat ini jumlah keanggotaannya di seluruh
dunia lebih dari 150 juta orang.
Ajaran Ahmadiyah telah masuk ke Indonesia sejak tahun 1925 di mulai dari
provinsi Sumatra Utara. Yaitu adanya pemuda muslim Indonesia yang menuntut ilmu
di India, tepatnya di daerah di mana ajaran Ahmadiyah berkembang. Dengan adanya
hal tersebut, banyak pemuda Indonesia yang di ajak bergabung dan ikut ke dalam
ajaran tersebut. Namun, sejak tahun 1980 Majelis Ulama Indonesia (MUI)
menyatakan bahwa ajaran Ahmadiyah adalah sesat. Dan ditegaskan kembali pada
tahun 2005 oleh MUI bahwa “ ajaran Ahmadiyah baik golongan Qodiyani maupun
Lohore keluar dari ajaran Islam, sebagai ajaran sesat dan menyesatkan”. Hal ini terjadi karena ajaran
Ahmadiyah tersebut memiliki bentuk ajaran yang sangat bertentangan dengan
ajaran yang terkandung dalam Al-Quran. Yaitu adanya pengakuan Mirza Ghulam Ahmad sebagai seorang mujaddid (pembaharu) dan
seorang nabi yang tidak membawa syariat baru. Mengimani bahwa “Tadzkirah” yang
merupakan kumpulan sajak buatan Mirza Ghulam Ahmad adalah kitab sucinya dan
berkedudukan sederajat dengan Al-Quran sebagai kitab suci dari nabi Muhammad
SAW. Dan mengimani bahwa Rabwah dan Qadian di India adalah tempat suci
sebagaimana Mekah dan Madinah. Serta bentuk-bentuk ajaran lainnya yang sangat
bertentangan dengan ajaran yang terkandung dalam kitab suci Al-Quran. Pertentangan pun terjadi antara umat
muslim (islam) dengan umat jemaat Ahmadiyah. Pelarangan dan pemutusan secara
hukum terhadap ajaran Ahmadiyah tidak menjadikan para penganut ajaran Ahmadiyah
tersebut menghentikan kegiatan ajaran keagamaan, namun menghiraukan saja
kondisi tersebut. Hingga pada akhirnya sering terjadi konflik dan pertikaian
antara umat muslim Indonesia yang tergabung dalam front pembela islam Indonesia
dengan jemaat Ahmadiyah. Pengrusakan, penghancuran, penganiayaan, perampasan
segala bentuk benda dalam kegiatan peribadatan sering kali terjadi. Sampai
terjadinya pertumpahan darah didalam konflik tersebut, baik dari pihak
Ahmadiyah sebagai pemicu konflik dan juga pihak muslim Indonesia.
Ketegangan-ketegangan terus terjadi Karena umat Ahmadiyah tetap saja bersikukuh
terhadap pendiriannya, yaitu tetap menjalankan kegiatan keagamaan di dalam
masyarakat. Meskipun berdasarkan atas nama Pemerintah Indonesia, Menteri Agama,
Menteri Luar Negeri, dan Jaksa Agung Indonesia pada tanggal 9 Juni 2008 telah
mengeluarkan Surat Keputusan Bersama, yang memerintahkan kepada penganut
Ahmadiyah untuk menghentikan kegiatannya yang bertentangan dengan islam, dan
merujuk para umat jemaat Ahmadiyah untuk kembali ke dalam ajaran Islam yang
hakiki dan sejati. Namun, segala bentuk
konflik yang terjadi antar umat beragama dapat dicegah dan dihentikan. Yaitu
adanya pembinaan baik organisasi dan masyarakatnya agar siap menerima perbedaan
dan tidak memaksakan keyakinan. Selalu melakukan menyelesaikan konflik
ketegangan dengan jalur hukum secara tuntas. Mengoptimalisasikan SKB (Surat
Keputusan Bersama) dengan membuatkan Undang-Undang baru terkait bentuk
ajaran-ajaran baru (Ahmadiyah) atau aliran sesat yang kerap kali menjadi pemicu
konflik. Dan membuat dialog-dialog untuk kepentingan jangka pendek, menengah,
dan jangka panjang bagi kerukaunan beragama. Diutamakan dialog yang
difasilitasi oleh pemerintah. Dan dengan kesadaran pribadi tidak melakukan
tindakan anarkis terhadap sesama dan mematuhi setiap keputusan hukum yang
keluarkan oleh pemerintah berkaitan
dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama.
http://ukm-pp.blogspot.com/2011/02/konflik-ahmadiyah-di-indonesia.html

4.Pembunuhan Reffi Efek Persaingan
Pembunuhan terhadap sesama anggota
keluarga, dalam hal ini saudara sekandung, merupakan efek dari sibling rivalry
atau persaingan dan pertikaian saudara kandung. Komunikasi antara orang tua dan
anak-anaknya menjadi cara ampuh untuk menghindari konflik saudara sekandung.
Kasus pembunuhan yang dilakukan VNE, 20, terhadap Reffi Naldo, 13, adik
kandungnya, Senin (6/2) malam lalu,merupakan salah satu contoh terjadinya
persaingan serta pertikaian saudara sekandung. Psikolog forensik dari
Universitas Bina Nusantara Reza Indragiri Amriel menjelaskan, pada dasarnya
setiap keluarga yang memiliki anak lebih dari satu memang sangat lazim terjadi
sibling rivalry. Peran orang tua dalam mendidik dan mencegah konflik sangatlah
penting. Caranya tentu saja dengan menjalin komunikasi antara orang tua dan
anak-anaknya. ”Anak-anak akan mampu memecahkan masalah dengan akal sehat, bila
orang tua selalu menjalin komunikasi,” tukasnya. Komunikasi yang baik diyakini
akan menjadi daya tangkal terhadap sikap agresivitas seseorang yang mengarah
pada timbulnya kekerasan. Untuk kasus pembunuhan Reffi , Reza menilai tidak
lengkapnya keberadaan orang tua korban dan pelaku menjadi satu masalah lain dan
berpengaruh terhadap tumbuh- kembang anak. Namun, hal ini sebenarnya dapat
dicegah dengan lingkungan yang baik. ”Usia sang kakak masih 20 tahun, dalam
usia ini tingkat emosi sangat labil,” ujarnya. Ketidaklengkapan orang tua dan
tingkat emosi yang labil, seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari orang tua
serta lingkungan mereka tinggal. Reza menegaskan, kasuskasus pembunuhan dalam
keluarga memang bermula dari lingkungan yang memang kurang sehat. Sementara
itu,Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Ni’am Sholeh
menuturkan, kasus kekerasan terhadap anak atas dasar apa pun,apalagi hingga
menyebabkan kematian, tidak bisa ditoleransi. Meskipun sang kakak yang
membunuhnya, pertanggungjawaban hukum atas tindak pidananya harus dilakukan.
“Kasus pembunuhan yang terjadi itu, sebenarnya adalah puncak dari salahnya
pendidikan keluarga dan lingkungan,” tegasnya. Kondisi seseorang dinilainya
merupakan buah dari pengasuhan keluarga dan lingkungan yang kurang sehat.Bila
dalam keluarga memang tidak sanggup tanggung jawab, keluarga terdekat dan
lingkungan harus berpartisipasi dalam mengawasi dan memberikan pelajaran.
Asrorun berharap ke depan perlu ada kesadaran bahwa institusi keluarga merupakan
benteng terkuat untuk memberikan hak-hak anak.Di bagian lain,VNE mendatangi
rumah sekaligus lokasi kejadian pembunuhan di Jalan H Jian RT 4/7,Cipete
Utara,Kebayoran Baru,Jakarta Selatan, Kamis (9/2) malam. Dikawal dua polisi
wanita, VNE yang mengenakan kaus putih dan celana panjang hitam datang sesaat
sebelum acara tahlilan digelar keluarganya. VNE bergegas ke lantai dua menuju
kamar untuk mengambil sejumlah pakaian. “Dia datang meminta maaf kepada
saya,karena telah pembunuh adiknya,” ujar Asih, nenek korban dan
tersangka.Menurutnya, sejak 2002 lalu setelah sang ibu meninggal dunia, dirinya
meminta kedua cucunya itu untuk tinggal bersama. Wanita berusia 65 tahun ini
tidak bisa menutupi kesedihannya ditinggal Reffi yang sejak usia empat tahun
telah dirawatnya. Bahkan,Asih merupakan orang yang mengantar Reffi saat pertama
duduk di bangku SD. Ketika duduk di bangku kelas empat SD, Reffi enggan untuk
kembali melanjutkan sekolah lantaran malu tidak naik kelas. ”Saya tidak
menyangka bila VNE yang membunuh adiknya.Keluarga menyerahkan sepenuhnya proses
hukum kepada pihak kepolisian,” ujarnya. Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan
AKBP Budi Irawan menjelaskan, pihaknya berencana melakukan pemeriksaan kejiwaan
VNE di Polda Metro Jaya. AKBP Budi Irawan belum dapat memastikan kapan jadwal
pemeriksaan itu dilakukan, bergantung kesiapan penyidik. Terkait pendalaman
motif pembunuhan tersebut, AKBP Budi Irawan menyebutkan motifnya masih karena
dendam diejek sang adik ketika berebut kaus kaki. “Seandainya ada helmi syarif _motif
lain, kami masih menyelidiki,” terangnya.
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/468514/34/http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/468514/34/v
5.Penusukan
Pendeta Bukan Konflik Agama
Insiden tentang Pendeta ditusuk yang
beredar baru-baru saja ini bukan merupakan konflik agama. Dijelaskan Kapolda
Metro Jaya, Irjen Pol Timur Pradopo mengatakan peristiwa penusukan pendeta
Hasean Lombantoruan merupakan aksi kriminal murni. Polisi juga sudah berhasil
menangkap dua dari delapan pelaku yang melakukan aksi penyerangan terhadap
pendeta HKBP tersebut.
Penusukan Pendeta Seperti yang
diberitakan sebelumnya, penusukan terhadap Pdt Sihombing terjadi saat ia sedang
berjalan kaki ketika hendak memimpin ibadah di HKBP Ciketing, Bekasi. Beberapa
saat sebelum tiba di gereja, pengendara sepeda motor datang dan menusuk perut
kanan Sihombing.
Jemaat Gereja Huria Kristen Batak
Protestan (HKBP) Bekasi menjadi korban penusukan oleh orang yang tidak dikenal
di daerah Ciketing Mustika Jaya, Bekasi. Usai penusukan, para pelaku yang
menggunakan motor langsung melarikan diri. Namun, dua pelaku berhasil
ditangkap.
6.KONFLIK POSO
Ada fakta sejarah yg sangat menarik bahwa
gerakan kerusuhan yg dimotori oleh umat Kristen di mulai pada awal Nopember
1998 di Ketapang Jakarta Pusat dan pertengahan Nopember 1998 di Kupang Nusa
Tenggara Timur kemudian disusul dgn peristiwa penyerengan umat Kristen terhadap
umat Islam di Wailete Ambon pada tanggal 13 Desember 1998. Dan 2500 massa
Kristen di bawah pimpinan Herman Parino dgn bersenjata tajam dan panah meneror
umat Islam di Kota Poso Sulawesi Tengah pada tanggal 28 Desember 1998. Apakah
peristiwa ini realisasi dari pidato Jendral Leonardo Benny Murdani di Singapura
dan ceramah Mayjend. Theo Syafei di Kupang Nusa Tenggara Timur? Tetapi yg jelas
Presiden B.J. Habibie yg menurut L.B. Murdani lbh berbahaya dari gabungan
Khomaeni Saddam Husein dan Khadafi baru berkuasa 6 bulan saja sehingga perlu
digoyang dan kalau perlu dijatuhkan. Apabila fakta-fakta ini dikembangkan dgn
lepasnya Timor-Timur dari Negara Kesatuan Republik Indonesia Gerakan Papua
Merdeka dan Gerakan Aceh Merdeka serta tulisan Huntington 1992 setelah Uni
Sovyet yg menyatakan bahwa musuh yg paling berbahaya bagi Barat sekarang adl
adalah umat Islam; dan tulisan Jhon Naisbit dalam bukunya Megatrend yg
menyatakan bahwa Indonesia akan terpecah belah menjadi 28 negara kecil-kecil;
maka dapat disimpulkan bahwa peristiwa kerusuhan-kerusuhan tersebut adl suatu
rekayasa Barat-Kristen utk menghancurkan umat Islam Indonesia penduduk
mayoritas mutlak negeri ini. Kehancuran umat Islam Indonesia berarti kehancuran
bangsa Indonesia dan kehancuran bangsa Indonesia berarti kehancuran/kemusnahan
Negara Kesatuan Republik Indonesia . Oleh krn itu penyelesaian
kerusuhan/konflik Indonesia khususnya Poso tidak sesederhana sebagaimana yg
ditempuh oleh Pemerintah RI selama ini sehingga tiga tahun konflik itu
berlangsung tidak menunjukkan tanda-tanda selesai malah memendam “bara api
dalam sekam”. Hal ini bukan saja ada strategi global di mana kekuatan asing
turut bermain tetapi ada juga ikatan agama yg sangat emosional turut berperan.
Sebab agama menurut Prof. Tilich “Problem of ultimate Concern” sehingga tiap
orang pasti terlibat di mana obyektifitas dan kejujuran sulit dapat diharapkan.
Karenanya penyelesaian konflik Poso dgn dialog dan rekonsiliasi bukan saja
tidak menyelesaikan konflik tersebut sebagaimana pernah ditempuh tetapi malah
memberi peluang kepada masing-masing pihak yg berseteru utk konsolidasi
kemudian meledak kembali konflik tersebut dalam skala yg lbh luas dan sadis.
Konflik yg dilandasi kepentingan agama ditambah racun dari luar apabila
diselesaikan melalui rekonsiliasi seperti kata pribahasa bagaikan membiarkan
“bara dalam sekam” yg secara diam-diam tetapi pasti membakar sekam tersebut
habis musnah menjadi abu. Pada tanggal
28 Desember 1998 Herman Parino membawa jemaahnya sebanyak 1.000 orang utk
memasuki Kota Poso tetapi dicegah oleh Polisi Brimob akibatnya mereka berpencar
di luar Kota Poso sebagian dari jemaat gereja meyerang Ummat Islam di desa
Buyung Katedo Kecamatan Lage Poso Kabupaten Poso. Penyerangan ini membunuh
warga Muslim dan membakar rumah-rumah orang-orang Islam. Jemaat gereja yg masih
berkeliaran di luar Kota Poso merasa belum puas terhadap penyerangan desa
Buyung Katedo pada tanggal 27 Mei 2000 maka mereka menyerang kembali umat Islam
di desa tersebut pada tanggal 3 Juli 2000 dgn jalan membunuh dgn sadis
anak-anak wanita-wanita dan orang-orang tua sebanyak 14 orang. Kemudian
membakar masjid dan rumah-rumah yg masih tersisa. Dalam peningkatan konsolidasi umat Kristen
Gereja Kristen Sulawesi Tengah membentuk Crisis Centre GKST dipimpin oleh
Pendeta Renaldy Damanik. Tidak lama setelah Crisis Centre berdiri maka umat
Kristen menyerang Pondok Pesantren Walisongo di desa Sintuwu Lemba Poso dgn
membantai umat Islam dan membakar pondok Pesantren tersebut. Pada tanggal 6 Agustus 2001 171 orang
delegasi Pendeta Kristen yg tergabung dalam Gereja Kristen Sulawesi Tengah mendatangi
Pemerintah Daerah Kabupatan Poso utk menuntut supaya Kabupaten Poso dibagi dua
50 % utk umat Kristen dan 50 % utk ummat Islam. Sesuai dgn janji umat Kristen
bahwa ummat Islam boleh kembali de daerah-daerah yg dikuasai umat Kristen seperti
kecamatan Tentena Poso dgn aman dan selamat; maka Drs. Hanafi Manganti pulang
ke daerah Tentena ternyata ia dibunuh dgn sadis; dan bersamanya terbunuh pula
seorang wanita muslimah. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 6 Agustus 2001. Pada tanggal 20 Agustus 2001 umat
Islam yg sedang memetik cengkeh di kebunnya di desa Lemoro Kecamatan Tojo
Kabupaten Poso diserang oleh 50-60 orang umat Kristen yg berpakaian hitam-hitam
membunuh dua orang Muslim dan mengobrak-abrik rumah-rumah orang Islam. Pengungsi
Laporan US Comitte of Refugees tentang Indonesia yg diterbitkan Januari 2001
menyebutkan dalam kerusuhan/konflik Poso yg terjadi selama tiga tahun
belakangan ini pihak Muslim telah menderita secara tidak seimbang. Dalam
laporan itu disebutkan jumlah pengungsi akibat konflik Poso kini sebanyak
hampir 80.000 orang dan diperkirakan 60.000 orang adl Muslim. Para pengungsi ini hidup menderita
tanpa kejelasan masa depan mereka; dan mereka kehilangan hak-haknya berupa
tanah kebun coklat cengkih kopra rumah harta benda bahkan nyawa
sanak-saudaranya. Bantuan makanan obat-obatan sangat terbatas sehingga penyakit
senantiasa menghantui mereka. Bantuan hukum umtuk meminta keadilan praktis
tidak ada. Bahkan nyawa mereka terancam tiap saat karena diserang pasukan
kelelawar Merah .

7.TRAGEDI
AMBON-MALUKU BERDARAH
Tragedi berdarah di Ambon dan sekitarnya
bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebelum
peristiwa Iedul Fithri 1419H berdarah, tercatat beberapa peristiwa penting yang
dianggap sebagai pra-kondisi, bahkan jauh ke belakang pada tahun 1995. Beberapa
peristiwa itu (sebagian) adalah sebagai berikut.1)
15 Juni 1995: Desa berpenduduk Islam,
Kelang Asaude (Pulau Manipa), diserang warga Kristen Desa Tomalahu Timur, pada
waktu Shubuh. Penyerangan dikoordinasikan oleh empat orang yang nama-namanya
dicatat oleh MUI.
21 Pebruari 1996 (Hari Raya Iedul Fithri)
: Desa Kelang Asaude diserang lagi. Serangan dilakukan oleh warga Tomahalu
Timur dengan menggunakan batu dan panah. Tiga hari sebelumnya, serombongan
orang yang dipimpin oleh sersan (namanya tercatat) datang ke Desa Asaude,
menangkap raja (kepala desa) berikut istri dan anak-anaknya. Mereka menggeledah
isi rumah dan menginjak-injak peralatan keagamaan.
18 Nopember 1998: Korem 174 Pattimura
didemo. Sejumlah besar mahasiswa Unpatti (Universitas Pattimura) dan UKIM
(Universitas Kristen Indonesia Maluku), yang dimotori oleh organisasi pemuda
dan mahasiswanya menghujat Danrem Kolonel Hikayat. Demonstrasi berlangsung dua
hari. Mereka membakar beberapa mobil keamanan, melukai tukang becak, dan
merusak serta melempari kaca kantor PLN Cabang Ambon. Jatuh korban luka-luka,
baik di pihak mahasiswa maupun kalangan ABRI. Beberapa bulan sebelumnya,
berlangsung desas-desus dan teror. Isu pengusiran orang-orang
Bugis-Buton-Makassar (BBM) sudah beredar di tengah masyarakat yang membuat
gelisah banyak orang. Mereka kurang bisa membedakan suku Bugis dan Makassar.
Kedua suku ini sebenarnya adalah satu. Orang-orang Muslim suku lain
(non-Maluku) juga diisukan untuk diusir. Produksi pesanan senjata tajam
ditengarai sangat tinggi. Pesanan dilakukan oleh kelompok tertentu. Isu pengusiran BBM memang
berbau SARA, terutama yang menangkut suku dan agama. Entah bagaimana awalnya
dari dalam Gereja. yang tepat, isu BBM bertiup dengan kencang dari kalangan
Kristen, bahkan kabarnya disuarakan oleh Gereja.
Menjelang akhir Nopember 1998: Sekitar 200
preman Ambon dari Jakarta, yang bekerja sebagai penjaga keamanan tempat judi
pulang kampung. Merekalah yang memulai bentrok dengan penduduk Ketapang
(Jakarta). Karena umat Islam Jakarta marah, mereka dikepung. Beberapa darinya
tewas. Sejumlah besar yang lain diminta masyarakat agar dievakuasi oleh aparat
keamanan. Sebagian dari mereka - sekitar 200 orang - inilah yang pulang ke
Ambon.
8.Tragedi
Semanggi
Korban tragedi semanggi I
Tragedi Semanggi menunjuk kepada dua
kejadian protes masyarakat terhadap pelaksanaan dan agenda Sidang Istimewa yang
mengakibatkan tewasnya warga sipil. Kejadian pertama dikenal dengan Tragedi
Semanggi I terjadi pada 11-13 November 1998, masa pemerintah transisi
Indonesia, yang menyebabkan tewasnya 17 warga sipil. Kejadian kedua dikenal
dengan Tragedi Semanggi II terjadi pada 24 September 1999 yang menyebabkan
tewasnya seorang mahasiswa dan sebelas orang lainnya di seluruh jakarta serta
menyebabkan 217 korban luka - luka.
Pada bulan November 1998 pemerintahan
transisi Indonesia mengadakan Sidang Istimewa untuk menentukan Pemilu berikutnya
dan membahas agenda-agenda pemerintahan yang akan dilakukan. Mahasiswa bergolak
kembali karena mereka tidak mengakui pemerintahan B. J. Habibie dan tidak
percaya dengan para anggota DPR/MPR Orde Baru. Mereka juga mendesak untuk
menyingkirkan militer dari politik serta pembersihan pemerintahan dari
orang-orang Orde Baru.
Masyarakat dan mahasiswa menolak Sidang
Istimewa 1998 dan juga menentang dwifungsi ABRI/TNI. Sepanjang diadakannya
Sidang Istimewa itu masyarakat bergabung dengan mahasiswa setiap hari melakukan
demonstrasi ke jalan-jalan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Peristiwa ini mendapat perhatian sangat besar dari seluruh Indonesia dan dunia
internasional. Hampir seluruh sekolah dan universitas di Jakarta, tempat diadakannya
Sidang Istimewa tersebut, diliburkan untuk mencegah mahasiswa berkumpul. Apapun
yang dilakukan oleh mahasiswa mendapat perhatian ekstra ketat dari pimpinan
universitas masing-masing karena mereka di bawah tekanan aparat yang tidak
menghendaki aksi mahasiswa. 

9.Papua
Konflik
Konflik Papua adalah etnis separatis
pemberontakan di Indonesia , terutama di Papua dan Papua Barat provinsi di
Pulau Nugini . Sejak penarikan penjajah Belanda pada tahun 1963, Pejuang Papua
Merdeka (OPM) organisasi telah melakukan kampanye tingkat rendah serangan
terhadap pos-pos pemerintah, bisnis, dan warga sipil. OPM pendukung telah
melakukan protes dan berbagai upacara pengibaran bendera untuk kemerdekaan atau
federasi dengan Papua Nugini , dan menuduh pemerintah Indonesia kekerasan
sembarangan dan menekan kebebasan mereka berekspresi.Pada bulan Desember 1949,
pada akhir dari Revolusi Nasional Indonesia , maka Belanda sepakat untuk
mengakui kedaulatan Indonesia atas wilayah bekas Hindia Belanda , dengan
pengecualian Barat New Guinea , dimana Belanda terus terus sebagai Nugini
Belanda . Pemerintah Indonesia nasionalis berpendapat bahwa itu adalah negara
penerus untuk seluruh Hindia Belanda dan ingin mengakhiri kehadiran kolonial
Belanda di Nusantara. Belanda berpendapat bahwa orang Papua adalah etnis yang
berbeda dan bahwa Belanda akan terus
mengelola wilayah sampai mampu menentukan nasib sendiri. Dari 1950 tentang
Belanda dan kekuatan Barat sepakat bahwa orang Papua harus diberikan negara
merdeka, namun karena pertimbangan global, terutama pemerintahan Kennedy
keprihatinan untuk menjaga Indonesia di situs mereka dari Perang Dingin ,
Amerika Serikat menekan Belanda untuk mengorbankan kemerdekaan Papua dan
mentransfer negeri ke Indonesia. Pada
tahun 1962, Belanda sepakat untuk melepaskan wilayah itu untuk sementara PBB
administrasi , menandatangani apa yang disebut New York Agreement , yang
termasuk ketentuan bahwa plebisit akan dilakukan sebelum 1969. Militer
Indonesia diselenggarakan pemungutan suara ini, yang disebut Act of Free Choice
pada tahun 1969 untuk menentukan pandangan penduduk di Papua dan masa depan
Papua Barat, hasilnya adalah mendukung integrasi ke Indonesia . Dalam melanggar
Perjanjian antara Indonesia dan Belanda, pemungutan suara itu mengacungkan
tangan di hadapan militer Indonesia, dan hanya melibatkan 1025 orang, jauh
lebih sedikit dari 1% dari mereka yang seharusnya berhak memilih. Keabsahan
suara tersebut maka dibantah oleh aktivis kemerdekaan, yang melancarkan
kampanye protes kekerasan terhadap pemerintah di Papua dan Papua Barat. Para pemberontak prinsip organisasi, Gerakan
Papua Merdeka (OPM), telah dituduh pelanggaran hak asasi manusia seperti
penyanderaan, eksekusi , dan sabotase. [6] , sementara pemerintah Indonesia
dituduh pelanggaran HAM, seperti serangan pada OPM-simpatik warga sipil dan
orang-orang memenjarakan yang mengangkat OPM bendera Bintang Kejora untuk
pengkhianatan . [12] Perkiraan resmi adalah bahwa 150.000 orang Papua (lebih
dari 1% dari populasi) dibunuh oleh militer antara tahun 1963 dan 1983 saja [4]
. Melalui program transmigrasi , yang
sejak tahun 1969 termasuk migrasi ke Papua, sekitar setengah dari 2,4 juta
penduduk Indonesia Papua lahir di Jawa . [4] masyarakat seperti migran sering
menjadi sasaran serangan OPM, meskipun perkawinan meningkat dan keturunan
transmigran telah datang untuk melihat diri mereka sebagai "Papua"
atas kelompok etnis orang tua mereka.
Pada tahun 2010, 13.500 pengungsi Papua tinggal di pengasingan di negara
merdeka tetangga Papua Nugini (PNG) [4] , dan kadang-kadang tumpahan
memperebutkan perbatasan. Sebagai hasilnya, Papua Nugini Angkatan Pertahanan
telah membentuk patroli di sepanjang perbatasan barat PNG untuk mencegah
infiltrasi oleh OPM. Selain itu, pemerintah PNG telah mengusir penduduk "pelintas
batas" dan membuat janji ada aktivitas anti-Indonesia kondisi untuk
tinggal migran di PNG. Sejak akhir tahun 1970, OPM telah membuat ancaman
balasan terhadap proyek bisnis PNG dan politisi untuk operasi PNGDF melawan
OPM. [14] PNGDF telah melakukan kerjasama patroli perbatasan dengan Indonesia
sejak 1980-an, meskipun operasi PNGDF terhadap OPM adalah " paralel
"/

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Papua_conflict
10.Konflik
Sosial di Maluku
Rekonsiliasi
dari Pasar Transaksi
PERISTIWA peledakan bom untuk ketigakalinya
di lokasi transaksi di Jalan Dr Tamela, Pohon Puleh - Ambon, tidak menggoyahkan
niat Jamal, 38 tahun, dan kawan-kawannya untuk tetap berjualan di kawasan itu.
Bom ketiga yang meledak di sebuah kios, meminta dua korban jiwa dan belasan
lainnya luka-luka. Teror demi teror itu tidak menyurutkan nyali Jamal, pedagang
sepatu dan pakaian, tetap berjualan. Namun, tak lama kemudian Wali Kota Ambon
MJ Papilaja mengeluarkan larangan bagi pedagang berjualan di situ. Larangan
itulah yang mencegah Jamal dan kawan-kawannya terus berjualan di lokasi
tersebut.
Penghidupan yang baru saja dimulai, kini
direnggut sudah. Omzet dagangannya bisa mencapai Rp 300.000 sehari. Sekarang
nol besar. Di antara bangku-bangku kosong yang masih berjajar di atas trotoar
mereka hanya duduk-duduk menunggu nasib. Hanya segelintir pedagang saja yang
masih nekad menggelar dagangannya.
"Soal bom
bagi kita biasa saja. Kita tidak berbuat. Kita datang hanya untuk cari hidup.
Tempat ini juga bukan hanya transaksi tapi di sini kita bisa bertemu saudara
dan teman-teman, baik Muslim maupun Kristen. Mertua saya Nasrani. Saya
baru-baru ini saja bisa bertemu mertua saya, di sini, setelah hampir tiga tahun
tidak bisa bertemu," tutur Jamal.
John Edward, 60 tahun, penjual cermin dan
alat-alat rumah tangga lainnya, melontarkan pendapat yang sama. "Kami
berjualan di sini tidak mencari musuh. Cari hidup. Cari makan. Kalau soal bom,
lapor saja pada aparat," ujarnya.
Papilaja mengemukakan, larangan berjualan
di lokasi transaksi itu terpaksa dikeluarkan karena situasi keamanan tidak
memungkinkan. Di situ anak-anak sekolah, mahasiswa, angkutan kota, dan penjual
berbaur sehingga aparat susah mendeteksi kemungkinan terjadinya gangguan.
Menurut Papilaja, para pedagang sudah sepakat untuk pindah di ruas Jalan
Latuhmahina yang diapit dua pos keamanan. "Mereka sudah membuat komitmen
untuk pindah," ujarnya. 

11.Konflik Sampit
Konflik Sampit adalah pecahnya kerusuhan
antar etnis di Indonesia, berawal pada Februari 2001 dan berlangsung sepanjang
tahun itu. Konflik ini dimulai di kota Sampit, Kalimantan Tengah dan meluas ke
seluruh provinsi, termasuk ibu kota Palangka Raya. Konflik ini terjadi antara
suku Dayak asli dan warga migran Madura dari pulau Madura.[1] Konflik tersebut
pecah pada 18 Februari 2001 ketika dua warga Madura diserang oleh sejumlah
warga Dayak.[2] Konflik Sampit mengakibatkan lebih dari 500 kematian, dengan
lebih dari 100.000 warga Madura kehilangan tempat tinggal.[3] Banyak warga
Madura yang juga ditemukan dipenggal kepalanya oleh suku Dayak.
Latar belakang
Konflik Sampit tahun 2001 bukanlah insiden
yang terisolasi, karena telah terjadi beberapa insiden sebelumnya antara warga
Dayak dan Madura. Konflik besar terakhir terjadi antara Desember 1996 dan
Januari 1997 yang mengakibatkan 600 korban tewas.[5] Penduduk Madura pertama
tiba di Kalimantan tahun 1930 di bawah program transmigrasi yang dicanangkan
oleh pemerintah kolonial Belanda dan dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia.[6]
Tahun 2000, transmigran membentuk 21% populasi Kalimantan Tengah.[3] Suku Dayak
merasa tidak puas dengan persaingan yang terus datang dari warga Madura yang
semakin agresif. Hukum-hukum baru telah memungkinkan warga Madura memperoleh
kontrol terhadap banyak industri komersial di provinsi ini seperti perkayuan,
penambangan dan perkebunan.[3]
Ada sejumlah cerita yang menjelaskan
insiden kerusuhan tahun 2001. Satu versi mengklaim bahwa ini disebabkan oleh
serangan pembakaran sebuah rumah Dayak. Rumor mengatakan bahwa kebakaran ini
disebabkan oleh warga Madura dan kemudian sekelompok anggota suku Dayak mulai
membakar rumah-rumah di permukiman Madura.[5]
Profesor Usop dari Asosiasi Masyarakat
Dayak mengklaim bahwa pembantaian oleh suku Dayak dilakukan demi mempertahankan
diri setelah beberapa anggota mereka diserang.[7] Selain itu, juga dikatakan
bahwa seorang warga Dayak disiksa dan dibunuh oleh sekelompok warga Madura
setelah sengketa judi di desa Kerengpangi pada 17 Desember 2000.[8]
Versi lain mengklaim bahwa konflik ini
berawal dari percekcokan antara murid dari berbagai ras di sekolah yang
sama.[9]
http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik_Sampit
12.Inilah
Kronologis Kasus Mesuji, Sumsel Versi Warga
Kasus dugaan pembunuhan warga Kecamatan
Mesuji, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan masih menjadi kontroversi. Ini
merupakan ujung dari masalah konflik sengketa tanah adat yang tak kunjung
diselesaikan pemerintah. Bagaimana kronologis kasus ini? Unggul, Wakil
Masyarakat Desa Sodong Mesuji Ogan Komering Ilir Sumatera Selatan memaparkannya
dalam perbincangan berikut ini.
Apa sebenarnya yang terjadi konflik atau
sengketa lahan di Sodong sana?Jadi masyarakat ini menuntut daripada berawal
perjanjian pembangunan plasma. Plasma yang pada tahun 1997, itu pernah ada
perjanjian pihak masyarakat dengan PT. Treekreasi Margamulya itu dibangun
plasma desa, lalu saat itu diserahkanlah 534 surat keterangan tanggal 6 April
1997. Lalu setelah diberikan itu, dijanjikanlah pembangunan plasma desa, pada
tanggal 1 Juni 1997 dibuatlah peserta plasma desa melalui KKPA-nya koperasi
Makarti Jaya Desa Suka Mukti. Karena di Desa Sungai Sodong itu belum ada
koperasi saat itu, daftar peserta KKPA anggota plasma Sungai Sodong itu sudah
ditandatangani oleh kepala desa saat itu, camat Mesuji, dan pihak perusahaan.
Yang menjadi penyebab akhirnya menjadi
konflik antar warga dengan perusahaan apa?Yang menjadi penyebab konflik adalah
plasma tersebut tidak ada realisasi, tidak diserahkan kepada masyarakat secara
baik. Jadi selama lima tahun itu tidak ada proses negosiasi dan akhirnya ada
juga dikeluarkan oleh perusahaan tanggal 26 Januari 2002 setelah adanya
persoalan mungkin ditengah jalan, itu surat kompensasi pergantian daripada
lahan tersebut, nilai yang tertera. Jadi selama 10 tahun GM-nya, yaitu A.M Vincent saat itu yang menandatangani tanggal 26 Januari 2002 bahwa
perusahaan akan memberikan kompensasi selama 10 tahun kepada pemohon plasma
desa itu, kepada petani yang memiliki 534 surat tersebut, 1.068 hektar kalau
bicara luasnya.
Ini kemudian yang berujung pada konflik
warga? Itu terjadi kapan?Iya. Sebenarnya tuntutan masyarakat ini sudah
berlangsung terus, tetapi mengacu kepada 2010 itu masyarakat sudah mulai
melalui koperasi yang dibangun sudah mengajukan surat kepada pihak perusahaan,
kepada pihak pemerintah, kepada DPR RI, juga kepada DPD OKI, itu untuk
menyelesaikan persoalan ini.
Bentrokan terjadi pada april lalu?Pada
tahun 2010 antara bulan sepuluh atau sebelas masyarakat mulai menduduki, setelah
ada negosiasi yang difasilitasi oleh pemerintah. Saat itu pihak pemerintah, DPR
masuk ke lahan di area PT. TM/ SWAitu juga pihak perusahaan datang beserta
masyarakat, ada negosiasi tentang itu. Setelah negosiasi itu, besoknya
masyarakat menduduki lahan yang dituntut sebanyak 633 hektar yang diduduki itu.
Setelah bentrokan itu, apakah sudah ada
penyelesaian baik secara hukum maupun lahannya itu?Yang disayangkan itu kenapa
sampai terjadinya namanya korban jiwa. Jadi di bulan April itu, perusahaan sebelumnya
sudah menurunkan PAM Swakarsa, tanggal 11 ada warga Sungai Sodong, dari desa
itu ingin keluar untuk membeli rondak, ditengah jalan jam sebelas ditemukan
masyarakat sudah dalam kondisi mengenaskan. Ternyata informasi itu dilakukan
oleh pihak keamanan PT, fakta itu masyarakat ketakutan karena melihat kondisi
korban itu, informasi terjadi pembalasan atau penyerangan dari beberapa desa.
Bagaimana kondisi terakhir di sana sampai
saat ini?Kondisi terakhir, setelah melihat tayangan lagi yang keluar informasi
dari mass media ini justru makin membuat masyarakat resah juga. Karena terlihat
bahwa kelihatannya isu itu masyarakat akan ditangkap karena kejadian pembalasan
kepada pihak PT.
http://www.kbr68h.com/berita/wawancara/16618-inilah-kronologis-kasus-mesuji-sumsel-versi-warga-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar